Cara Praktis agar Khusyu dalam Shalat

H I K M A H  S H A L A T
Oleh: Rasyid Rizani, S.HI., M.HI

Abstrak

Salah satu cara agar khusu dalam menjalankan shalat adalah dengan mengetahui hikmah dari shalat itu sendiri. Ibadah shalat adalah rukun Islam yang kedua. Dengan demikian, shalat merupakan salah satu ibadah pokok di samping puasa, zakat dan haji. Perintah shalat langsung diterima Nabi dari Allah SWT pada malam Isra dan Miraj beliau, tanpa melalui perantara Jibril seperti perintah-perintah lainnya. Betapa pentingnya kedudukan ibadah shalat sehingga ia disebut sebagai tiang agama, bahkan shalat inilah yang pertama kali dihisab di hari kiamat.

Setiap muslim wajib mengerjakan shalat di manapun dia berada. Ibadah shalat merupakan tolak ukur dari amalan lainnya. Jika shalat rusak maka rusak pula seluruh ibadah lainnya. Itulah salah satu penegasan Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani.

Ibadah shalat menjadikan pelakunya selalu ingat kepada Allah, dan dengan ingat kepada Allah kita akan terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Di dalam shalat seseorang berserah diri kepada Allah SWT, dan dengan berserah diri itulah orang akan merasa tenang dan tenteram, bebas dari keresahan dan kegelisahan.

Sesungguhnya di dalam ibadah shalat banyak terkandung hikmah dan fadhilah bagi manusia, sehingga banyak para ahli yang mengkaji rahasia yang terkandung di dalam ibadah shalat.

  1. PENGERTIAN HIKMAH

Al-ustadzul Imam Syeikh Muhammad Abduh menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hikmah itu ialah : Adapun hikmah maka di dalam segala sesuatu ialah mengenal rahasianya dan faedahnya, dan yang dimaksud ialah mengenal hukum-hukum agama, syari’at dan maksud-maksudnya.[1]

Ahli Tafsir lainnya seperti Al-‘Alamah Muhammad Jamaluddin Al-Qasimy menegaskan : Kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa al-hikmah ialah rapi ( teliti ) ilmu dan amalnya, atau dengan perkataan lain : Mengetahui yang benar dan mengamalkannya.[2]

Sayyid Quthub seorang ahli Tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan hikmah adalah :Hikmah itu menghendaki kecermatan dan keseimbangan serta menemukan ‘illat ( sebab ) dan tujuan ( startegi / taktik ) serta meletakkan segala sesuatu pada proporsinya dengan penuh perhatian ( penelitian ), pemikiran dan pengetahuan.[3]

  1. PENGERTIAN SHALAT

Dalam bahasa Arab kata “Shalat” diartikan dengan do’adan pujian. Sebagaimana firman Allah SWT :

… وصل عليهم ان صلوتك سكن لهم … التوبة : 103.

…Berdo’alah untuk mereka, karena sesungguhnya do’amu itu mententramkam mereka… ( QS. At Taubah : 103 ).

Shalat ialah perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudahi dengan salam, yang dengannya kita beribadat kepada Allah dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.[4]

Prof. Dr. M. Hasbi Ash-Shaiddieqy di dalam Kitab Pedoman Shalat mengemukakan ta’rif yang mencakup bentuk, hakikat dan jiwa shalat dengan rumusan sebagai berikut :

Berhadap hati ( jiwa ) kepada Allah SWT, hadap yang mendatangkan takut, menumbuhkan rasa kebesaran-Nya dan kekuasaan-Nya dengan penuh khusu’ dan ikhlas di dalam beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir disudahi dengan salam.[5]

  1. HIKMAH SHALAT
    1. Mencegah dari yang keji dan yang munkar

Firman Allah SWT :

واقم الصلاة ان الصلاة تنهى عن الفخشاء والمنكر. العنكبوت : 45.

Dan dirikanlah shalat, karena sesungguhnya shalat itu dapt mencegah perbuatan keji dan munkar. ( QS Al ‘Ankabut : 45 ).

Ayat ini menegaskan bahwa hikmah pokok dari shalat adalah agar dengan penuh pengaruh shalat itu ke dalam diri manusia lantas mereka dapat berhenti dari perbuatan keji dan yang munkar.

Imam Al Ghazali[6] menegaskan bahwa shalat yang wajib, ketika Allah memerintahkan untuk mendirikannya, ia menjelaskan hikmahnya dengan firman-Nya: “Dan dirikanlah shalat, karena sesungguhnya shalat itu dapt mencegah perbuatan keji dan munkar”. ( QS Al ‘Ankabut : 45 ).

Kemudian Rasulullah Saw juga bersabda :

انما اتقبل الصلاة ممن تواضع بها لعظمتي ولم يستطل على خلقي ولم يبت مصرا على معصيتي وقطع النهار فى ذكري ورحم المسكين وابن السبيل والارملة ورحم المصاب . ( رواه البزار ).

“Sesungguhnya Aku menerima shalat dari orang yang merendahkan diri karena kebesaran-Ku dan tidak berlaku sewenang-wenang terhadap makhluk-Ku dan tidak terus menerus berbuat maksiat kepada-Ku. Dan ia menghabiskan hari siangnya dalam ingat kepada-Ku ( dzikrullah ), dan ia sayang kepada orang yang miskin, ibnu sabil, dan janda dan sayang kepada orang-orang yang ditimpa musibah. ( HR. Al Bazzar ).

Menurut ayat dan hadits di atas, hikmah pokok shalat ialah menyangkut dengan perbaikan akhlak ( tahdziibul akhlaaq ). Orang yang merendahkan diri dalam shalat maksudnya ialah ia haruslah berubah tingkah lakunya dan karakternya menjadi orang yang rendah hati, lemah lembut, sopan santun dan berbudi pekerti yang baik karena ia sadar bahwa yang besar hanyalah Allah SWT. Tidak berlaku sewenang-wenang terhadap makhluk Allah artinya orang yang shalat tidak boleh berlaku bertindak sesuka hatinya dan seenak perutnya terhadap makhluk lainnya. Juga orang yang shalat itu tidak terus menerus berbuat maksiat maksudnya ialah ia akan segera bertaubat kepada Allah SWT dan mohon ampun atas kesalahan-kesalahannya serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Orang yang shalat itu senantiasa berdzikir kepada Allah maksudnya ialah di manapun dia berada Allah SWT selalu ada bersamanya dan mengetahui segala apa yang kita perbuat. Orang yang shalat juga sayang kepada orang-orang miskin, janda, ibnu sabil, dan orang yang ditimpa musibah maksudnya, sayang itu diiringi dengan perbuatan yaitu membantu mereka.[7]

2.      Shalat membina jiwa dan membersihkan ruh

Pribadi manusia pada dasarnya terdiri dari 2 unsur yaitu jasmani dan rohani. Unsur jasmani ini berasal dari benda, maka ia berhajat kepada benda yang dapat memelihara daya tahan dan kesehatannya. Jika tidak diberi benda maka jasmani akan mejadi lemah, bahkan bisa mati.

Unsur yang kedua adalah rohani yang berasal dari roh yang ditiupkan Allah SWT ke dalam rongga badan tadi. Unsur roh ini berasal dari non materi sebab itu ia berhajat kepada non materi seperti berhajat berhubungan terus menerus dengan Sang Maha Pencipta, ilmu pengetahuan, keindahan dan lain-lain. Apabila ruh tetap bersih dan suci, maka cara merasa, berfikir dan berkemauannya tetap baik, bersih dan suci.

Dengan ibadah shalat yang terus menerus, maka jiwa menjadi bersih dan suci, badan menjadi sehat dan fikiran menjadi cerdas dan tangkas yang mempunyai kemampuan untuk menimbang dan mengambil keputusan yang tepat dan benar. [8]

3.      Shalat mendidik manusia berdisiplin dan mematuhi peraturan

Firman Allah SWT :

فاقيم الصلاة ان الصلاة كانت على المؤمنين كتابا موقوتا. ( النساء : 103 ).

“Maka hendaklah kamu mendirikan shalat, karena sesungguhnya shalat itu atas orang-orang yang mukmin adalah merupakan kewajiban yang telah ditentukan waktunya. ( QS An Nisa : 103 ).

Jelaslah kalau kita melihat ayat di atas bahwa shalat merupakan suatu kewajiban atas setiap muslim dan mukmin yang telah ditentukan waktunya, baik itu waktu shalat subuh, zuhur, ashar, maghrib dan isya.

Di samping kita diperintahkan menunaikan shalat pada waktunya yang telah ditentukan, maka kaifiyat shalat, tata cara dan tata laksana serta tata keramanya haruslah pula sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana sabda beliau :

صلوا كما رأيتمونى اصلى. ( رواه البخارى ومسلم )

“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat. ( HR. Bukhari dan Muslim ).

Dengan demikian shalat sekaligus melatih kita supaya kita berdisiplin dan patuh kepada aturan-aturan yang telah ditetapkan. Mulai dari waktu pelaksanaannya, gerak badan dalam shalat, bacaan, gerak jiwasemuanya haruslah sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.[9]

  1. Membina persatuan dan persamaan antara sesama manusia

Shalat merupakan suatu ibadat yang pertama sekali diwajibkan kepada umat Islam secara wajib ‘aini, di mana setiap muslim yang telah baligh, berakal wajib mendirikannya. Semua wajib mendirikan shalat baik itu orang yang kaya, miskin, pejabat, orang biasa, orang alim, orang awam, pada waktu muqim ataupun dalam perjalanan.

Di dalam shalat berjama’ah di mesjid, siapa yang datang terlebih dahulu ia mendapat shaf yang pertama, walaupun ia orang miskin, rakyat jelata lagi awam. Dan siapa yang belakangan hadirnya maka ia di shaf yang belakang walaupun ia seorang Presiden, Direktur, Pemimpin masyarakat dan lain-lain. Demikianlah di dalam shalat tidak memandang kedudukan atau jabatan seseorang, tetapi diperlakukan sama di hadapan Tuhan.[10]

  1. Shalat menanamkan ketenangan dan ketenteraman di dalam jiwa

Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya :

ان الانسان خلق هلوعا. اذا مسه الشر جزوعا. واذا مسه الخير منوعا. الا المصلين. الذين هم على صلاتهم دائمون. ( المعارج : 19 – 23 ).

“Sesungguhnya manusia itu dijadikan loba-kikir. Mengeluh apabila kesusahan menimpanya. Dan kikir apabila dianugerahi oleh kebaikan ( keberuntungan ). Kecuali orang-orang yang shalat. Yang tetap mendirikan shalat mereka”. ( QS Al Ma’arij : 19 – 23 ).

Pada ayat di atas kita dapat mengetahui hanya orang yang shalatlah yang akan tetap tenang dan tenteram menghadapi segala keadaan dan peristiwa. Ia tidak akan angkuh dan sombong karena banyak rezeki dan juga tidak akan kecewa dan berputus asa karena lepas apa yang di tangannya. Segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak dan ketentuan Allah SWT. Ketenangan dan ketenteraman jiwa inilah yang sebenarnya yang merupakan kekayaan yang hakiki yang tidak dapat diimbangi dan ditandingi oleh kekayaan materi. [11]Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

ليس الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس ( متفق عليه ).

“Bukanlah kekayaan itu dari karena banyak harta tetapi kekayaan ( yang sebenarnya ) ialah kaya jiwa. ( HR Muttafaq ‘Alaihi ).

  1. Shalat melatih konsentrasi fikiran

Shalat melatih konsentrasi fikiran, memahami permasalahan dan mengambil keputusan yang tepat. Shalat yang khusu’ akan membiasakan orang yang shalat itu terlatih berkonsentrasi dan memusatkan fikiran, perhatian , dan perasaan, serta kemauan di dalam menghadapi segala persoalan. Orang yang terlatih demikian , baik ia menjadi pemimpin suatu organisasi atau badan lainnya ia akan menjadi pimpinan yang baik dan berwibawa.[12]

  1. Shalat menumbuhkan jiwa kepemimpinan

Shalat menumbuhkan jiwa kepemimpinan, management dan organisasi.

Ketiganya itu dapat dibina dan ditumbuhkan dengan baik melalui ibadat shalat, atau dengan kata lain ibadat shalat yang dilakukan dengan selalu berjama’ah, sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW akan memupuk jiwa kepemimpinan, management dan organisasi di dalam masyarakat.[13]

KESIMPULAN

Sebenarnya banyak sekali hikmah yang terkandung di dalam ibadah shalat itu, baik itu hikmah dari segi jasmani ataupun dari segi rohani, apabila kita tuliskan niscaya kita tidak dapat menuliskan semuanya karena begitu banyaknya hikmah yang terkandung di dalam shalat itu.

Adapun di antara sekian banyak hikmah shalat itu adalah sebagai berikut :

  1. Shalat itu dapat mencegah dari yang keji dan yang munkar.
  2. Shalat membina jiwa dan membersihkan ruh.
  3. Shalat mendidik manusia berdisiplin dan mematuhi peraturan.
  4. Shalat mendidik dalam membina persatuan dan persamaan antara sesama manusia.
  5. Shalat menanamkan ketenangan dan ketenteraman di dalam jiwa.
  6. Shalat melatih konsentrasi fikiran.
  7. Shalat menumbuhkan jiwa kepemimpinan

DAFTAR PUSTAKA

  1. Abduh, Muhammad, Tafsir Al Manar, Juz 1.
  2. Al Ghazaly, Muhammad, Khuluqul Muslim.
  3. Al-Qasimy, Muhammad Jamaluddin, Tafsir Al-Qasimy, juz III.
  4. Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi Prof, Pedoman Shalat, Bulan Bintang: Jakarta, 1972.
  5. Quthub, Sayyid, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Juz III.
  6. Rousydiy, T.A Lathief, Ruh Shalat dan Hikmahnya, Medan: Firma Rimbow, 1984.
  7. Wijayakusuma, H.M. Hembing Prof, Hikmah Shalat Untuk Pengobatan dan Kesehatan,Anggota IKAPI: Pustaka Kartini.

[1] Muhammad Abduh, Tafsir Al Manar, Juz 1, hlm. 472.

[2] Muhammad Jamaluddin Al-Qasimy, Tafsir Al-Qasimy, juz III, hlm. 685.

[3] Sayyid Quthub, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Juz III, hlm. 62.

[4] Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma, Hikmah Shalat Untuk Pengobatan dan Kesehatan, Anggota IKAPI: Pustaka Kartini, hlm. 115.

[5] Prof. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Shalat, Bulan Bintang: Jakarta, 1972.

[6] Muhammad Al Ghazaly, Khuluqul Muslim, hlm. 6 – 7.

[7] T.A Lathief Rousydiy, Ruh Shalat dan Hikmahnya, Medan: Firma Rimbow, 1984. hlm 212 – 217

[8] Ibid, hlm. 218 – 222

[9] Ibid, hlm. 223 – 225.

[10] Ibid, hlm. 228.

[11] Ibid, hlm. 230 – 232.

[12] Ibid, hlm. 233.

[13] Ibid, hlm. 234.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *